Ana Uhibbuki Fillah!!!

Posted: Minggu, 15 Februari 2009 by Bang Yudy in
1

"Afwan Akhi, bukan ane menolak lamaran antum terhadap putri ane, tapi usia antum bukannya terlalu jauh dengan putri ane," kata-kata itu seolah meruntuhkan bumi yang dipijaknya. Seorang ikhwan berusia sepertiga abad sedang berhadap-hadapan dengan seorang ikhwan yang lebih tua dari dirinya.

Malam itu adalah malam ketika ia membulatkan tekad untuk mengungkapkan segala hal yang ia pendam selama lebih dari 7 tahun. Perasaan yang ia rasakan sejak pertama kali berinteraksi dengan seorang akhwat yang usia jauh lebih muda dari dirinya.

Keberanian itu baru muncul saat ini, saat ia sudah merasakan segala seusatu telah pantas untuk ia ungkapkan. Harapannya satu, ia dapat mengkhitbahnya untuk dijadikannya sebagai seorang istri, yang akan melengkapi kesempurnaan imannya, yang akan menjadi perhiasan yang paling indah selama ia hidup di dunia. Ya seorang istri sholeha. Sosok yang ia temukan pada diri akhwat yang ia akan lamar malam itu.

Dan kini, saat segalanya sudah ia perhitungkan dengan matang. Kenyataan justru berkata lain, Ia harus menerima sebuah pernyataan yang sungguh ia tidak harapkan selama ini. Ia hanya bisa mematung mendengarkan untaian kata-kata berikutnya yang keluar dari ayah sang akhwat.

Walaupun gemuruh sesak di hatinya sudah tak tertahankan, naumun ia mencoba untuk bertahan. Bertahan demi sebuah harga diri yang tidak mungkin ia runtuhkan saat itu juga. Ia hanya akan menjadi pecundang jika kemudian mengeluarkan butiran air mata di depan sosok ayah yang ia kagumi selama ini. Sosok ayah yang mampu mendidik putrinya menjadi seorang wanita yang cerdas, dan beriman, layaknya Siti Aisyah.

Pikirannya berkecamuk. Apa karena beda usia yang jauh, lamarannya harus ditolak. Bukankah Rasulullah, dan para sahabatnya justru menunjukkan hal sebaliknya. Menunjukkan bahwa cinta tidak pernah memandang usia. Menunjukkan bahwa pernikahan dapat dilakukan dengan usia yang berbeda cukup jauh.

Lantas dimana persaudaraan di antara sesama ikhwah, pertanyaan-pertanyaan berikutnya hadir di benak kepalanya. Ia tidak lagi berkonsentrasi mendengarkan penjelasan-penjelasan berikutnya yang terlontar dari mulut sang ayah.

Selesai mendengarkan beragam penjelasan, ia pamit pulang. Ia sudah tidak berniat lagi untuk mendebat seluruh penjelasan yang telah didengarnya. Ia bahkan kini menjadi limbung, doanya hanya satu, "Robbi inikah jawaban atas segala doa yang ku panjatkan selama ini, ampuni hambaMu ini ya Robb," Air matanya mengalir deras.

Malam itu, kepalanya hanya tertunduk, harapan yang ia letakkan setinggi langit, hilang bersama hembusan angin. Entah, ia tidak bisa membuat kata-kata motivasi dalam dirinya, ia tidak bisa segera bangkit. Tapi, entah esok, atau lusa...

Di kejauhan langit, tampak sang rembulan tak bersemangat memantulkan sinar yang diperolehnya dari sang matahari. Awan tipis menyelubungi dirinya, seolah ikut merasakan dua hati yang sedang terluka.

1 komentar:

  1. kak,
    kisah nyatakah??

    hanan^^