Where is My Liqo?
Posted: Selasa, 17 Februari 2009 by Bang Yudy inSeorang ikhwah, sejak siang sudah tampak bersiap-siap. Semua bekal pertemuan disiapkan. Materi tambahan, bahan diskusi, cek hafalan, materi kajian hadits, sampai bahan presentasi program uanggulan sudah bersatu di dalam tasnya. Dia berdiri, menghembuskan nafas panjang, dan "Yap ready to go, Ya Allah bersihkan hati kami dalam menghasilkan perbaikan untuk diri kami, bangsa, dan ummat ini, Amin."
Itulah gambaran persiapan ikhwah kita masa-masa yang lalu. Sebuah pertemuan yang menyedot perhatian maksimal. Banyak hal yang produktif dihasilkan dari pertemuan sesaat tersebut. Rangkaian strategi dakwah di lingkungan sekitar dibahas tuntas. Ada kampus, remaja masjid, perkantoran, atau komplek perumahan.
Mereka membagi perhatian yang bahkan lebih kental dari pertalian darah. Mereka mencintai pertemuan tersebut, meskipun tidak jarang mereka memulai pertemuan sejak pukul 16.00 dan baru berakhir pukul 07.00 pagi keesokan harinya.
Keterikatan dan rasa kepemilikan terhadap pertemuan tersebut diwakili dengan pernyataan, "Hari terbaik kami adalah ketika kami berhimpun dengan ikhwah dalam ketaatan."Tahun-tahun sebelum ini, masih dalam dasawarsa. liqo masih menjadi pertemuan eksklusive yang elite. Setiap pesertanya merasa bangga memilikinya.
Belakangan ini, gambaran liqo seakan kehilangan ke-elitan-nya. Mulai dari waktu pertemuan yang terkesan yang kental terkesan waktu sisa, sampai nilainya yang sekedar 'jaga status'. Halaqoh berjalan sebagai penebus kewajiban, formal, rutin, dan sekedar mekasnistik. Miskin ruh, miskin ukhuwah, dan tidak produktif. Mungkin tidak semua halaqoh seperti itu, tapi sulit untuk mengatakan jumlahnya sedikit.